Kambing 1. yakan tahun domba, kambing, atau biri-biri? Perbedaan bahasa Inggris dan Cina menjadikan kebingungan bagi perayaan Tahun Baru Imlek di Australia. Perayaan Tahun Baru Imlek di Australia sempat membuat kebingungan. Kota Sydney dan Adelaide menyebut tahun ini adalah tahun domba (sheep), tapi di kota Melbourne dan Brisbane disebut
Musikyang mengiringi Tari Remo ini adalah gamelan, yang biasanya terdiri atas bonang barung/babok, bonang penerus, saron, gambang, gender, slentem siter, seruling, kethuk, kenong, kempul, dan gong. Adapun jenis irama yang sering dibawakan untuk mengiringi Tari Remo adalah Jula-Juli dan Tropongan, namun dapat pula berupa gending Walangkekek
Panjang10 skala nonius adalah 9 mm. Hal ini berarti 1 skala nonius (jarak antara dua garis skala nonius yang berdekatan) 0,9 mm. Dengan demikian selisih skala utama dengan skala nonius adalah 1 mm - 0,9 mm = 0,1 mm atau 0,01 cm. Hal ini berarti bahwa tingkat ketelitian dari jangka sorong adalah ½ nilai skala terkecil (nst) = 0,005 cm
Tujuannyauntuk membantu para client kami sedikit lebih mengerti mengenai pernikahan adat batak yang mereka jalani, bukan cuma untuk membantu mengerti adat batak saja, kami juga memberikan video yang artistik, touching, modern. ringkas, padat dan menarik. Berikut sedikit ulasan mengenai urut-urutan pra sampai pasca pernikahan adat Na Gok : 1.
TRIBUNBANTENCOM - Alunan suara gamelan mengiringi upacara wiwitan di Kampung Wisata Dewi Sri, Lodji Londo, Bergas Lor, Kabupaten Semarang, Selasa (28/6/2022). Upacara wiwitan adalah ritual
NurcahyoTP., M.Div (email: nurcahyo_03@yahoo.com) Pembinaan dan Pelatihan Pemimpin Pujian dan Pemusik GK Kalam Kudus Jayapura Selasa/29 Januari 2013. 1) Karena listrik mati dan layar powerpoint tidak dapat beroperasi, pemimpin nyanyian jemaat dapat mendiktekan syair lagu kalimat per kalimat, sementara bernyanyi.
. New York - Sepanjang sejarah, ada banyak ritual yang diikuti oleh perseorangan maupun kelompok yang mungkin saja dipandang aneh atau tidak biasa oleh orang atau kelompok lain. Dikutip dari Ancient Origins pada Senin 18/7/2016, berikut ini adalah ulasan singkat beberapa ritual yang berakar sejak zaman dahulu kala, namun ada yang masih terus berlanjut hingga masa kini. Pohon Apel Bersejarah Berusia 200 Tahun Mati Perlahan-lahan 5 Teori Konspirasi Fenomenal Penyebab Kematian Tokoh Dunia 10 'Mahakarya Kematian' yang Menggetarkan Jiwa Kebanyakan ritual dilakukan untuk menyenangkan para dewa, tapi ada juga kegunaan lain yang diyakini dapat membantu seseorang atau masyarakat tertentu 1. Aghori dan Dupa Di India, kaum Aghori adalah pria-pria suci asketis Shiwa yang dikenal berurusan dengan ritual sesudah kematian post-mortem. Mereka tinggal di kuburan-kuburan dan menaburkan abu kremasi pada tubuh mereka. Mereka juga menggunakan tulang-belulang manusia untuk menjadi perhiasan dan tengkorak manusia untuk menjadi kapala, yakni topi upacara. Praktik-praktik mereka bertentangan dengan Hinduisme orthodoks, sehingga hampir semua tindakan mereka ditentang oleh penganut Hindu lainnya. Aghori melakukan meditasi dan beribadah di tempat-tempat yang oleh orang lain disebut "rumah berpenunggu." Walaupun begitu, para guru Aghori memiliki banyak pengikut di pedesaan dan dipercaya memiliki kekuatan penyembuhan yang didapat dari adat yang ketat dan pengucilan diri. Kaum Aghori tampil dalam film "The Other Side of the Door" keluaran 2016. Suatu ritual aneh lainnya yang dilestarikan sejak jaman purba juga ada di India. Pada hari tertentu dalam suatu tahun, mereka yang percaya pergi ke kuil untuk menghirup sejenis dupa yang disulut oleh para imam. Para pengikut ini kemudian memasuki keadaan seperti kesurupan. 2. Mumifikasi Diri di Jepang Ritual aneh berikutnya adalah mumifikasi diri. Praktik ini sudah dilarang di Jepang sejak abad 20. Ritual ini dilakukan berkaitan dengan kepercayaan Buddha untuk memisahkan diri dari dunia. Beberapa biarawan menterjemahkan gagasan ini hingga menjadi diet ekstrem sampai meninggal. Dengan pengawetan jasadnya, para biarawan ini membuktikan kesuciannya. Biasanya ritual dimulai dengan diet biji-bijian dan kacang-kacangan selama 3 tahun. Diet ini ini dilengkapi dengan serangkaian olah raga untuk menghabisi semua lemak tubuh. Selama 3 tahun berikutnya, diet diganti dengan bonggol pohon, akar-akaran, dan teh beracun yang terbuat dari pohon Urushi. Teh ini menyebabkan sang biarawan muntah-muntah sehingga membuang cairan tubuh dan membunuh belatung yang mungkin berkembang setelah kematian. Pada akhirnya, sang biarawan mengunci dirinya di dalam makam dalam posisi bunga teratai. Di dalamnya, ia membawa selang pernafasan dan sebuah lonceng yang dibunyikannya untuk memberitahu bahwa dia masih hidup. Setelah biarawan itu wafat, makamnya di segel. Hingga hari ini ada sekitar 20 mumi biarawan yang telah ditemukan. 3. Santapan Kematian Yanomamo Suku Yanomamo di Venezuela memiliki upacara menyantap sesamanya yang sudah meninggal. Upacara ini sudah ada jauh sebelum diungkapkan oleh bangsa-bangsa Barat. Budaya Yanomamo adalah salah satu budaya poligami yang masih tersisa di dunia. Mereka menenggak zat halusinogen ketika merasa sakit. Namun demikian, ritual kematian lah yang oleh orang luar dianggap sebagai aspek yang paling aneh. Tentu saja ritual ini juga berkaitan dengan kepercayaan. Mereka percaya bahwa warga yang meninggal dibawa pergi oleh pemakan nyawa yang laparnya tidak terpuaskan, lalu menyedot kekuatan kehidupan mereka yang meninggal. Jika rantai penghisapan ini tidak dihentikan, para pemakan nyawa ini akan terus makan hingga manusia seluruh dunia mati semuanya. Sebagai akibatnya, untuk menghentikan rantai santap-menyantap nyawa ini, suku Yanomamo memakan sesamanya yang meninggal. Pertama-tama, mereka melakukan kremasi jenazah dan kemudian menggiling tulang-belulang terbesar menggunakan alu dan godokan ini digunakan sebagai bahan dasar sup pisang. 4. Festival Thookkam Thookkam adalah suatu festival di India diikuti oleh sejumlah orang yang ditusuk dengan kaitan, lalu digantung di suatu bingkai selama beberapa jam. Walaupun memiliki akar budaya masa lalu, festival ini baru saja dilarang oleh pemerintah India. Acara ini biasanya dilangsungkan di Kerala Selatan, dalam kuli-kuil pemujaan dewi Kali. Warga menari dan darah yang tercurah dipercaya menenangkan dewi Kali sehingga tidak mengamuk. Pengikut yang diberi kait digantung di suatu bingkai dan diarak keliling kuli sebanyak 3 kali. Darah yang tercecer dikumpulkan untuk dipersembahkan kepada Dewi Kali guna menenangkannya.* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.
Home Lainnya 41 bulat, didalamnya beralaskan tikar. Penguburan harus dilakukan jam 1 satu siang. Malam harinya langsung diadakan acara Keleku ucapan syukur. 72 Dalam buku Dunia Orang Sawu karangan Nico L. Kana, ada beberapa istilah atau nama dari proses ritual yang dilakukan dalam Made Nata Mati Manis yang berbeda dengan informan yang diwawancarai penulis. Berikut adalah pemaparan yang dilakukan oleh Kana 73 tentang ritual Made Nata. Penetapan jenis upacara tergantung kepada hasil musyawarah diantara anggota kepala keluarga ina ama amu dalam kelompok dara amu di tempat orang yang meninggal tersebut menjadi warga. Keputusan ini sangat bergantung pada potensi ekonomi warga dara amu yang bersangkutan dan juga pada hubungan tolong-menolong antara almarhum dengan orang-orang di sekitarnya, yakni apakah semasa ia hidup, ia banyak memberi bantuan atau tidak kepada mereka. Selain itu tingkat usia juga dapat dijadikan faktor bagi keputusan yang akan diambil. Akibatnya, untuk pemuda atau anak-anak upacaranya sederhana saja, sedangkan bagi orang lanjut usia diusahakan upacara yang lebih lengkap dan mewah menurut kemampuan ekonomi kelompok dara amu-nya. Upacara yang sederhana dan dinilai terendah disebut Hogo wie Deo masak untuk Dewa. Yang lebih tinggi dari itu adalah Hae Awu naik kapal dan yang lebih tinggi lagi ialah Peake diikat. Yang lebih tinggi lagi di sebut Para Ki’i memotong kambing dan yang paling tinggi ialah upacara Tao Leo membuat teratak atau rumah. i. Upacara Hogo Wie Deo Ketika seseorang akan menghembuskan napas terakhirnya, padanya ditegukkan minuman ai lango jara air minyak perjalanan. Terdiri dari sebagian kecil hati binatang, 3 tiga butir beras yang kulitnya telah dikupas dengan tangan bukan beras tumbuk, 3 tiga 72 Hasil wawancara dengan bapak DTB 40 tahun, pada 15 Januari 2012, di kediaman bapak DTB, pada pukul WITA 73 Nico L. Kana, Dunia Orang Sabu, Jakarta Timur Sinar Harapan, 1983 , 42 sayatan minyak babi yang selama itu disimpan di loteng bagian perempuan, semuanya dimasak dalam periuk kecil atau yang disebut aru kuku, terbuat dari tanah dan biasa di gunakan untuk memasak makanan untuk anak kecil. Sebelum dikubur jenazah dibungkus dan diikat, umbai-umbai selimut Sabu diikatkan pada jenazah, kaki dan tangannya diikat dan dikenakan sabuk yang disebut dari dulu ai tali timba air. Apabila jenazah sudah terletak di liang kubur sabuk pun dilepaskan. Di sisi jenazah segera diletakkan sirih pinang dan tembakau, sedangkan ke mulutnya di masukkan sekeping uang logam dan cincin. Sesudah penguburan, hati anak babi atau disebut ana wawi lebo ade anak babi yang di lubangi hatinya diletakkan sebagai sesaji di atas kubur. Sore hari barulah bekas-bekas upacara seperti ikatan tali ikatan, wadah bekas minuman dan sebagainya itu dibuang ke tempat pembuangan di luar yang disebut kolo malaha. Sesudah jenazah dikuburkan, keesokan harinya diselenggarakan upacara “memasak untuk dewa” dengan menyembelih seekor babi sebagai tanda penutup upacara dan memohon agar kematian tidak berulang di rumah tersebut. Jika keluarga almarhum merupakan orang berada maka hewan yang dikurbankan seringkali lebih besar lagi. ii. Upacara Hae Awu Upacara kematian ini diawali pada saat si sakit akan menghembuskan napas terakhirnya. Ia akan diberi minum ai lango jara juga sampai 3 tiga kali, dari kaba rai wadah yang terbuat dari tanah, sambil diusapkan kepadanya. Jika ia ternyata sudah mati maka perbuatan ini hanya dilakukan secara simbolik. Untuk upacara ini yang disembelih adalah ayam, tetapi jika keadaan ekonominya lebih baik masih akan ditambah dengan kambing dan babi. 43 Sesudah yang bersangkutan benar-benar mati dilakukanlah perihe ri nga’a ri nginu disisakan makanan dan minuman, yakni membunuh hewan yang sebagian dagingnya dipersembahkan bersama makanan dalam wadah yang diletakan di sisi kiri dan kanan almarhum. Sesudah itu baru almarhum dimandikan. Seluruh tubuh almarhum diolesi dengan nyiu woumangi kelapa harum, yakni kunyahan kopra dan irisan kayu cendana, sedangkan rambutnya diolesi dengan parutan kelapa campur minyak babi. Ampas kelapa olesan itu lalu ditaburkan ke sekeliling pusar sedangkan sepotong kayu kemeyan yang disebut kerani di taruh di dalam lubang pusarnya itu. Sementara itu seuntai biji damar atau biji nitas dibakar dekat kemenyan tersebut. Kegiatan ini disebut tunu ahu membakar pusar. Jenazah lalu disiapkan dengan dihiasi baik-baik agar diterima para leluhur menumpang perahu yang akan membawanya ke dunia gaib. Jenazah lalu di bungkus dengan selimut atau sarung yang berwarna merah yang di sebut ai mea higi taba. Sebelum dibungkus di pinggang almarhum di selipkan sirih pinang, jagung rote, kacang hijau dan kelapa kering. Bungkusan jenasah lalu diikat pada bagian tangan, pinggang dan kakinya pun diikat dengan pelepah daun lontar yang dibuat khusus untuk itu. Tali ini di sebut dari wodue api keriu tali dua “urat” yang dipintal ke kiri, dan sebagai pengikat ia dinamai dari dulu ai nginu pa rujara la hedapa Deo tali timba air minum di jalan ke hadapan Dewa Dalam keadaan ini jenazah di baringkan dibalai-balai utama di dalam rumah sambil dikitari warga perempuan sepanjang malam. Esok hari para pelayat berdatangan. Pelayat perempuan berkerudung sarung atau disebut leo kolo tudung kepala dan sambil merangkul warga perempuan almarhum merekapun bertangis-tangisan. Para pelayat laki-laki diterima keluarga lelaki almarhum. Pada saat itulah para warga laki-laki itu memusyawarahkan bentuk upacara kematian buat almarhum. Penguburan berlangsung esoknya. Jenazah dibawa keluar melalui pintu anjungan dengan kaki lebih dahulu, kemudian diletakkan dalam liang kubur yang sudah dialasi sehelai 44 tikar. Sesudah itu barulah tali ikat jenazah dibuka. Penguburan pejabat pemimpin upacara umumnya dilangsungkan malam hari, dengan kepalanya ditudungi gong, sedangkan posisi badannya duduk diatas kulit kerang. Sebelum upacara penguburan ini di lanjutkan dengan penimbunan tanah maka diucapkanlah kata-kata perpisahan dan rasa terima kasih keluarga. Malamnya sanak saudara almarhum datang berkunjung lagi. Pada malam itu dituturkan sisilah, pedai huhu kebie bicara susunan silsilah, baik menurut garis lelaki atau pun perempuan si almarhum. Disinilah sering para pengunjung mengetahui lebih jelas lagi hubungan kekerabatan mereka dengan almarhum ataupun dengan sesama pengunjung itu sendiri. Upacara pada hari ketiga adalah upacara pemo yang berarti upacara memberisihkan. Sumbangan hewan besar seperti kuda atau kerbau atau pun hewan kecil seperti babi atau kambing, makanan, selimut, ikat kepala dan sirih pinang dibawa oleh para penyumbang ke rumah juga disiapkan. Seusai ini akan dilakukan imbalan buat para pengunjung yang memberikan sumbangan. Penyumbang seekor hewanakan menerima dua kali seperempat bagian hewan tersebut sebagai imbalan. Penyumbang makanan dan lainnya akan menerima imbalan berupa makanan dan potongan daging hewan. Pembagian wadah makanan ini disebut pekepala pai pembagian besek. Malamnya diadakan lagi pembacaan silsilah, yang pada hakikatnya merupakan tapeele ne hedui herui untuk menghabiskan susah dan duka. Esoknya merupakan logo pengahe hari berhenti yang tanpa upacara khusus. Makanan sisa kemarin disuguhkan dan karenanya disebut woubai makanan basi. Hari ke lima diperuntukkan untuk upacara haga, yang menandai selesainya urusan si mati dengan dunia orang hidup dan hemanga roh almarhum agar berangkat ke dunia gaib tanpa di halangi wango kekuatan yang negatif. 45 Gambar 4. Upacara Haga pada peristiwa kedukaan 74 Pembawa ayam orang yang tidak memakai baju adalah pemimpin upacara, berdiri berhadapan dengan keluarga terdekat almarhum. Upacara ini harus dilakukan didalam kampong dengan membelakangi pintu toka dimu gerbang timur dari kampung Menutup rangkaian upacara kematian Hae Awu dilakukan malam hari, dengan upacara raja daru amu memaku rumah, yang diperuntukkan hanya diantara anggota keluarga almarhum. Bagian-bagian rumah yang penting ditancapi ruhelama daun selamat, yakni daun lontar yang disilang-silangkan dan dipaku dengan lidi. Dengan memaku ini dimaksud seluruh rumah dan penghuninya dilindungi dari kematian, agar tidak melanda lagi. iii. Upacara Para Ki’i Dalam upacara memotong kambing ini, segera sesudah penderita penyakit meninggal dilakukanlah upacara pemberian air minum minyak perjalanan juga, yang dicampur dengan 3 butir beras dalam tempurung minuman baru dengan sendok tempurung yang baru pula. Seekor ayam dibunuh pula, dengan cara dilubangi untuk diambil hatinya. Jika pihak keluarga almarhum cukup kaya, maka juga akan disembelih anak babi dan anak kambing. Pembawa berita kematian tidak boleh masuk begitu saja ke rumah atau kampung pemimpin upacara. Ia akan berdiri di luar pagar kampong sambil mengabarkan kabar 74 Gambar diambil dari dari buku Nico, L. Kana, Dunia Orang Sabu, Jakarta Timur Sinar Harapan, 1983, 46 dukacita tersebut. Rasa dukacita dinyatakan tuan rumah dengan berdiri dipagar kampung sambil melemparkan telur dan abu dalam terpurung kearah gerbang. Tindakan ini disebut lole awu tabe kolo mambawa abu menerpa kepala. Ia lalu meletakkan sedikit irisan daging kerbau dan kacang hijau dan gemuk babi campur air dingin di batu khusus. Hari ke-2 dua dilangsungkan upacara peraba kebao saling merampas kerbau. Hewan yang dibunuh itu direbut dagingnya beramai-ramai oleh hadirin. Hal ini konon untuk menandai kekayaan keluarga almarhum. Esoknya dilakukan upacara pemo memberisihkan. Esoknya lagi istirahat dan hari ke-5 lima diselenggarakanlah upacara haga yang juga diikuti upacara pemanggilan roh yang hidup dan akhirnya menanyai tombak. Sesudah itu baru dilakukan penutupan kembali dinding di bagian anjungan rumah atau labu laba pebare. Untuk upacara penutupan dinding itu Deo Rai diundang ke rumah almarhum untuk menyembelih kambing buat upacara. Ada kalanya ini diikuti dengan mencelupkan buah lontar ke dalam cairan mengkudu lalu mengusir roh orang mati ke luar rumah itu dengan mengibas-ibaskan daun waru ke pelbagai penjuru. iv. Upacara Tao Leo Yang disebut upacara kematian “membuat rumah atar teratak” ini paling kompleks penyelenggaraannya karena paling tinggi kedudukannya. Untuk itu didirikan teratak tempat orang-orang menari. Sambil menanti kedatangan orang-orang yang diundangi, jenazah dimandikan, diolesi minyak dan “bakar pusar”, dibungkus sarung atau selimut atau dibaringkan tepat di bagian batas anjungan dan buritan rumah. Anak babi dan anak kambing kemudian dilubangi hatinya dan diikuti pemberian minuman “minyak perjalanan” bagi almarhum. Hewan-hewan persembahan itu disajikan buat para leluhur, sedangkan pemberian minuman dilakukan sampai 3 tiga kali sambil diiringi penendangan 3 tiga kali pula 47 dinding anjungan. Tindakan ini melambangkan pengusiran kekuatan wango dari dalam rumah. Sesudah itu semua perhiasan dan pakaian dikenakan pada jenazah. Hal ini dikarenakan si mati sedang dalam perjalanan ke dunia gaib dan karena itu dianggap perlu berdandan sebaik mungkin. Bahkan harus diolesi agar bau tubuhnya pun harum. Sesudah siap pemimpin upacara lalu melakukan upacara “penembakan” dengan bedil tua yang pucuknya diarahkan ke barat. Maka menyusullah pembuatan leo dapi = teratak tikar yang bahannya terdiri dari 2 dua batang kayu dadap atau aju kare, sembilan tiang dan kayu-kayu palang, dinding anjungan, sehelai tikar kecil serta sejumlah tikar lebar. Dinding dan tikar kecil itu dilambangkan sebagai layar perahu. Pemasangan teratak ini didahului oleh makan bersama, yakni berlauk kerbau atau ditambah dengan daging babi. Hari ke-2 dua, fajar menyising, teratak harus diberi “makan” dan disebut pengaa’leo depi. Untuk dipotong seekor kerbau dan seekor babi. Sesudah itu sarapan bersama pun dilakukan dan disambung dengan tari-tarian sampai malam hari. Pada malam hari ke-3 tiga dilangsungkan oro rai jelajahi tanah menceritakan kebaikan almarhum atau pun orang-orang dalam garis keturunan lelaki dari almarhum, yang sudah mati. Hari ke-4 empat diundang orang yang melakukan upacara huri mada dere mencoret mata gendang; yang dimaksud ialah kulit tambur yang ditabuh. Mata gendang dan sejumlah gong kemudian dicoret dengan tanda silang +. 48 Gambar 5. Upacara Huri Made Dere pada waktu kedukaan. 75 Pemberian tanda + pada gendang ialah bagian dari upacara yang berlangsung sampai berhari-hari. Sekalipun demikian, upacara ini sering berlangsung dengan khidmat Saat mencoreti gendang si pelaku mengucapkan mantra, li mangau, bagi almarhum dan tokoh leluhur mitis bernama Ago Rai yang dianggap datang menjemput almarhum. Sesudah itu dilanjutkan dengan banyo, lagu duka. Sesudah itu dilangsungkan kata-kata hiburan dan pujian bagi para pelayat. Hari ke-5 lima masih dilanjutkan dengan tarian di bawah teratak. Menjelang sore hari berlangsung upacara perebutan daging kerbau sembelihan. Sebelum dipotong hewan- hewan itu, lazimnya 2 dua ekor kerbau dan seekor kuda, oleh pemimpin upacara diberi kelapa harum di telinganya sambil diriingi pengucapan mantra. Hari ke-6 enam ialah lodo pemo, hari pembersihan dan penutupan dinding anjungan. Dilanjutkan dengan memakan makanan sisa. Sedangkan haru ke-7 tujuh, hari terakhir, diisi dengan memaku erat-erat, raje pebare, dan memaniskan semua tempat yang telah digunakan untuk upacara dengan menyirami dengan air gula lontar. Mantra yang diucapkan selain memohon berakhirnya 75 Gambar diambil dari dari buku Nico, L. Kana, Dunia Orang Sabu, Jakarta Timur Sinar Harapan, 1983, 49 kematian buat rumah itu juga sekaligus buat pemeberkahan bagi seisi rumah yang ditinggal si mati. Analisa Dari penjelasan diatas, jelas terlihat ada banyak sekali proses atau ritual yang dilakukan jika ada anggota keluarga yang meninggal. Hal ini dilakukan tidak hanya untuk orang yang telah meninggal tetapi juga bagi keluarga yang ditinggalkan. Dari pihak keluarga yang masih hidup diperlukan tindakan ritual agar yang anggota keluaga yang sudah meninggal terjamin keadaannya “di alam sana” dan pihak yang hidup tidak dilanda “pengaruh buruk” baik itu perasaan dan kehilangan identitas, atau mendapat gangguan roh si mati akibat suatu kematian melainkan memperoleh berkat. 76 Dalam tahapan ritual untuk Made Nata mati manis, terdapat lima bentuk upacara yang dapat dipilih oleh keluarga. Penetapan jenis upacara yang dilakukan tergantung pada potensi ekonomi keluarga dari yang meninggal tersebut dan hubungan antara orang yang meninggal dengan sanak saudara, handai taulan dan kenalan baik atau tidak. Dari sini terlihat bahwa hubungan atau relasi yang baik antara sesama manusia sangat diperhitungkan. Hal ini dikarenakan pandangan masyarakat Sabu tentang hakikat manusia sebagai makhluk sosial, yang tidak dapat hidup sendiri sehingga membutuhkan pihak lain seperti, manusia lain, alam serta kekuatan gaib sehingga relasi yang baik antar sesama manusia sangat diperhatikan. Dari kelima bentuk upacara yang dilakukan terdapat persamaan tindakan pertama dalam memulai proses ini, yaitu jenazah diberi minum ai lango jara air minum perjalanan. Penulis melihat hal ini dikarenakan arti atau makna kematian bagi orang Sabu adalah sebuah perjalanan menuju alam gaib untuk berkumpul dengan para leluhur. Arwah 76 Ninik Dwiyantu S., Pengaruh Adat Tionghoa di Sekitar Kematian dalam Kehidupan Bergereja- Skripsi Salatiga Universitas Kristen Satya Wacana, 1990 hal. 30 50 orang yang meninggal tidak langsung akan berkumpul dengan para leluhur karena arwah para leluhur tidak berada di pulau Sabu tetapi di Yuli Haha tanjung Sasar dekat pulau Sumba. Oleh karena itu perlu di beri minum ai lango jara untuk bekal menuju alam gaib. Sama halnya ketika keluarga memberi satu uang koin logam ke mulut jenazah, ataupun memakaikan pakaian adat yang bagus serta didalam petinya ditaruh sarung ataupun selimut, hal ini dilakukan dengan tujuan untuk memberi bekal bagi orang yang telah meninggal untuk digunakan di alam gaib. Dalam budaya Sabu, biasanya ada yang masih memberikan atau menyediakan makanan bagi orang yang telah meninggal, hal ini dikarenakan adanya anggapan bahwa orang yang sudah meninggal itu masih ada. Jika ada anggota keluarga yang bermimpi bertemu dengan orang yang telah meninggal maka keluarga merasa ada yang ingin disampaikan oleh orang yang telah meninggal itu atau merasa bahwa orang yang telah meninggal tersebut sedang merasa lapar sehingga perlu diberi atau disediakan makanan. Dalam budaya Sabu, yang membawa satu barang atau hantaran bagi orang yang meninggal biasanya per satu desa bukan perorangan. Hal ini berbeda dengan kebudayaan orang Sabu yang telah tinggal diluar Sabu. Mereka biasanya membawa hantaran secara pribadi bukan kelompok. Pada waktu dilakukan pemotongan hewan yang merupakan hantaran dari keluarga, maka bagian kepala, dada dan isi perut di bawa kembali oleh tuan atau pemilik binatang, sedangkan sisanya diberikan kepada keluarga yang berduka. Barang atau hewan antaran dari keluarga atau kenalan akan dicatat sehingga ketika keluarga tersebut mengalami pesta atau acara lain termasuk kematian maka akan “dibalas” kembali oleh keluarga yang telah diberikan hantaran tersebut. Barang yang dibawa tidak harus sama baik jumlah atau pun jenisnya, tetapi hal ini dilakukan agar saling mengingat satu sama lain atau biasa disebut sistem balas jasa, sehingga apa yang kita lakukan kepada orang lain, maka hal itu yang akan di tambahkan pada kita. 51 Dalam buku Dunia Orang Sawu, Kana mengatakan bahwa kubur orang yang mati secara wajar ialah dibawah kolong balai-balai tanah atau disebut Kelaga Rai. Bila lelaki, maka kuburannya ditempatkan di bagian anjungan depan, sedangkan perempuan dikubur di bagian buritan belakang. Liang kubur bagi kematian manis berbentuk lubang melingkar. Jenazah dibaringkan pada sisi badan dengan lutut tertekuk ke dada, bagian depan jenazah lelaki diarahkan ke barat sedangkan perempuan ke timur. Hal ini melambangkan keadaan manusia di dalam rahim ibu, karena tanah merupakan lambang sosok seorang ibi. Adapun kuburan untuk kematian asin berbentuk persegi empat, terletak memotong arah panjang rumah di bagian sisi anjungan. Jenazah orang mati asin dikubur terlentang dengan kepala terletak kearah bagian depan rumah yang dipilin sedemikian rupa sehingga wajahnya menghadap ke bawah. 77 Jika berbicara tentang kuburan orang Sabu yang sederhana dan berada di bawah beranda rumah serta tidak banyak ornamen atau penanda yang menandakan adanya kuburan, penulis menilainya sebagai sebuah sikap sederhana sehingga mereka tidak menghias kuburnya dengan banyak ornamen. Selain itu adanya anggapan bahwa orang mati tersebut masih ada bersama-sama dengan keluarga sehingga mereka menguburnya di bawah beranda rumah agar sosoknya dirasa tetap tinggal bersama dengan mereka. Hal ini berpengaruh pada tindakan mereka yang masih memberikan makan untuk orang yang meninggal karena dianggap orang tersebut masih ada bersama-sama dengan mereka. Pada penjelasan-penjelasan diatas jelas terlihat bahwa adanya pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan. Namun sebelumnya penulis ingin memaparkan sedikit tentang kedudukan perempuan dalam kehidupan orang Sabu. Dalam pandangan Orang Sabu, perempuan ternyata memiliki tempat yang tinggi. 78 Mereka sering mengumpamakan 77 Nico L. Kana, Dunia Orang Sabu, Jakarta Timur Sinar Harapan, 1983 , 78 Ibid, hal. 23-24 52 matahari sebagai laki-laki sedangkan perempuan sebagai bulan, ataupun bumi sebagai laki- laki dan laut sebagai perempuan. Dalam pembagian kerja yang berdasarkan jenis kelamin di Sabu pada hakikatnya bukan karena laki-laki lebih tinggi kedudukannya daripada pihak perempuan, akan tetapi yang ingin ditonjolkan dengan adanya pembagian kerja adalah sifat keduanya saling melengkapi satu dengan yang lain, sehingga bersifat sederajat dan selaku teman sekerja. Hal ini sama dengan ajaran Kristen tentang kedudukan perempuan dan laki-laki dalah hal rumah tangga bahwa suami dan istri memiliki hubungan yang setara atau sebagai mitra kerja. Padahal pandangan orang Sabu tentang kedudukan perempuan telah ada jauh sebelum mereka mengenal agama Kristen. Penulis melihat adanya kesamaan antara ajaran orang Sabu dan ajaran agama Kristen. Bagi orang Sabu yang sudah tidak menetap lagi di pulau Sabu, biasanya tidak lagi melakukan ritual tersebut secara penuh. Mereka biasanya hanya melakukan ritual Huhu Kebie, “memberi makan” orang yang telah meninggal, atau pun menutupi jenazah dengan sarung perempuan dan selimut lelaki sesuai dengan strata sosial keluarga masing- masing. Ada pun yang masih memberikan sarung, selimut atau pun pakaian ke dalam peti jenazah sebagai bekal di dunia gaib. Dari pemaparan diatas juga dapat diidentifikasi bahwa pendampingan pastoral tidak hanya dilakukan oleh orang yang telah ahli atau profesional tetapi pendampingan pastoral lebih luas maknanya yaitu dapat dilakukan oleh siapa saja orang Kristen yang mau membantu orang lain baik yang ada didalam komunitas atau lingkungannya atau pun yang tidak. Hal ini dikarenakan pendampingan pastoral terutama mengacu pada semangat, tindakan, memedulikan dan mendampingi secara generik. Selain itu juga, jika kita melihat ritual yang dilakukan pada suku Sabu maka terlihat hampir sama dengan masyarakat tradisioanal lainnya, yaitu semua orang dalam lingkungan 53 atau komunitas terbesar atau dalam masyarakat dan komunitas terkecil atau keluarga inti dapat melakukan pendampingan. Jadi mereka saling menguatkan satu dengan yang lain sehingga keluarga yang berduka tidak merasa sendiri dalam kedukaannya, karena ada banyak orang yang memperdulikan kesedihannya. Oleh karena itu penulis ingin melihat bahwa sikap memedulikan sangat penting manfaatnya bagi orang yang sedang mengalami krisis. Sikap ini merupakan jalan masuk bagi seseorang yang ingin melakukan pendampingan pastoral. Hal ini di dapat penulis ketika melakukan observasi atau wawancara terhadap beberapa informan. Mereka sangat merasakan perhatian yang besar dari keluarga dan teman yang datang menunjukkan rasa peduli mereka terhadap kedukaan orang yang berduka sehingga mereka tidak berlama-lama dalam kedukaannya. Dari kelima jenis upacara tersebut yang telah dipaparkan diatas, maka terlihat bahwa ada makna pendampingan pastoral tidak langsung yang dilihat oleh penulis. Berikut ini akan dipaparkan beberapa temuan penulis tentang adanya makna pendampingan pastoral pastoral tidak langsung dalam ritual adat yang dilakukan, yaitu 1 Menyembuhkan Healing, yaitu suatu fungsi pastoral yang bertujuan untuk mengatasi beberapa kerusakan dengan cara mengembalikan orang itu pada suatu keutuhan dan menuntun dia kearah yang lebih baik dari sebelumnya. Penulis melihat fungsi ini didalam proses yang ada dalam ritual kematian suku Sabu. Seperti dalam ritual Huhu Kebie, dimana selain mengucapkan silsilah keturunan dari orang meninggal juga ada syair yang menunjukan bahwa hidup harus terus berlanjut sehingga tidak usah bersedih terlalu lama. Menurut penulis dalam ritual ini, keluarga mendapatkan fungsi pastoral menyembuhkan dari orang yang bisa melakukan ritual huhu kebie, karena secara tidak langsung dapat orang yang melantunkan syair itu telah memberikan semacam motivasi untuk terus 54 melanjutkan hidup karena kita yang hidup telah hilang ketergantungan dengan orang yang telah mati. 2 Menopang Sustaining, yaitu suatu fungsi pastoral yang menolong orang yang “terluka” untuk bertahan dan melewati suatu keadaan yang didalamnya terdapat pemulihan terhadap kondisi semula. Penulis melihat hal ini lewat kedatangan keluarga, kenalan dan handai taulan yang datang secara bersama-sama. Secara tidak langsung memberikan fungsi pastoral menopang agar keluarga yang berduka dapat bertahan di dalam masa berkabungnya. 3 Dalam ritual ini, penulis juga melihat fungsi memberdayakan empowering yang oleh Totok S. Wiryasaputra dalam buku Ready to Care 79 adalah untuk membantu orang yang didampingi menjadi penolong bagi dirinya sendiri pada masa depan ketika menghadapi kesulitan kembali. Bahkan, fungsi ini juga dipakai untuk membantu seseorang menjadi pendamping bagi orang lain. Hal ini tampak dalam keseluruhan ritual kematian yang dilakukan, yaitu bahwa orang yang datang ke rumah duka dan melihat ritual tersebut dilakukan maka mereka melihat dan menyaksikan sendiri bahwa keluarga yang berduka di bantu oleh kelompoknya untuk bisa bertahan dalam masa berduka dan ada rasa kekeluargaan yang tampak sehingga ketika kedukaan itu terjadi pada mereka, mereka telah mengetahui cara untuk bertahan dikala duka dan bisa memakai beberapa makna dari ritual ini untuk membantu orang lain yang sedang berduka. b Made Haro Mati Asin Dalam jenis Made Haro mati asin, maka akan diterima dengan menggunakan adat, yaitu dengan menggunakan genua bawang putih dan gula Sabu. Orang yang melayat pun 79 Totok S. Wiryasaputra, Ready to Care., 92-93 55 tidak diperbolehkan makan makanan di tempat orang yang meninggal, karena jika dilanggar maka akan ada dampak yang ditimbulkan seperti hewan ternak yang akan mati secara tiba- tiba. 80 Made Haro atau mati tidak layak, contohnya kematian yang disebabkan karena kecelakaan, yang meninggal karena bersalin dan lain-lain sehingga harus segera dikubur. Oleh karena hanya orang-orang tertentu yang boleh melayat. Orang yang melayat akan menerima makanan dari luar dan 3 tiga hari 3 tiga malam baru boleh kembali dari rumah. Yang mengatar makanan hanya boleh mengantar makanan sampai di depan Darra Roe atau pintu gerbang saja. Mayat orang yang mati karena kecelakaan, dikuburkan diluar rumah dan bentuk kuburannya persegi panjang. Upacara ini disebut Rue, sedangkan pada upacara kematian orang yang meninggal secara lazim atau biasa, mayatnya dibungkus dengan selimut adat dan dikuburkan dalam posisi jongkok dengan dibekali bahan makanan, sirih dan buah pinang. 81 Dalam budaya orang Sabu, jika yang meninggal adalah orang tua, maka pestanya akan sangat mewah apabila di bandingkan dengan anak muda. Hal ini dilakukan untuk memberikan penghormatan kepada yang meninggal. Jika yang meninggal adalah trurunan raja atau para bagsawan maka acara kematian bisa dilakukan sampai 3 tiga bulan atau 1 satu tahun. Dalam budaya orang Sabu, ada proses dari ritual yang dilakukan adalah menangis sambil melantunkan syair yang disebut Huhu kebie yang adalah cerita tentang silsilah keluarga keturunan. Orang yang melakukan Huhu kebie adalah orang yang secara kodrati atau alamiah dapat melakukannya atau yang biasa disebut dengan istilah karunia. Biasanya dilantunkan oleh dua atau lebih orang. 80 Hasil wawancara dengan bapak YB 60 tahun, pada 27 Maret 2012, di kediaman bapak YB, pada pukul WITA 81 http 56 Pada waktu meratapi jenazah, orang yang melakukan Huhu kebie akan dibungkus atau ditutupi dengan kain atau mereka menyebutnya dengan kata selimut. Dalam Huhu kebie, silsilah yang dilantunkan adalah garis keturunan ibu dan bapak. Silsilah yang dilantunkan biasanyanya sangat panjang, dimulai dari silsilah orang yang meninggal sampai pada turunan yang pertama. 82 Orang coba susun silsilah tapi tidak mengetahuinya secara pasti atau persis, mereka bisa mendapakan kesialan atau celaka. 83 Dalam budaya Sabu, jika suami dari saudara perempuan meninggal, maka setelah acara penguburan, pada malam harinya saudara laki-laki dari perempuan atau istri dari suami yang meninggal, dapat meminta agar saudara perempuanya dibawa pulang mengikuti mereka. Akan tetapi jika anak-anak mereka tidak setuju maka mereka akan berkata, “Mama punya air susu belum kering, jadi kita masih mau mama ada bersama-sama dengan kita”, artinya mereka masih membutuhkan kasih sayang dari ibu mereka. Sedangkan bagi keluarga dari suami yang telah meninggal itu akan berkata, “kita ambil dia ibuistri dengan baik-baik, maka jika dia sedang mengalami masalah dan kehilangan, kita tidak bisa melepaskan dia begitu saja”. Hal ini wajib dilakukan karena merupakan aturan adat. Jika orang Sabu yang meninggal di luar pulau Sabu, maka akan dibawa rambut dari orang yang telah meninggal, namun sekarang barang yanga dibawa bisa berupa foto atau pun pakaian. Ritual ini disebut Ru’ Ketu. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan kepada keluarga di Sabu bahwa salah satu anggota keluarga mereka ada yang telah meninggal. Selain itu 82 Hasil wawancara dengan WD 66 tahun, pada hari rabu, 19 Oktober 2011, pukul wita, di kediaman bapak WD 83 Hasil wawancara dengan bapak DTB 40 tahun, pada 15 Januari 2012, di kediaman bapak DTB, pada pukul WITA 57 dalam budaya Orang Sabu, setiap orang Sabu adalah milik tanah Sabu. Di manapun dia bepergian wajib baginya untuk kembali ke kampung halamannya. Penjemputan terhadap Ru’ Ketu dilakukan dengan menggunakan adat. 84 Dalam buku Dunia Orang Sabu Nico L. Kana, disebutkan pula tentang proses ritual bagi Made Haro. Jika misalnya kematian asin ini karena korban jatuh dari pohon lontar, maka ia diangkut dengan tandu yang terbuat dari pelepah lontar yang disebut kelaga apa balai-balai pelepah ke kampung. Para pengiring jenazah, di sepanjang jalan menyanyikan nyanyian Hida Ngara, Rai Seruan Nama Tuhan menabur-naburkan biji jagung dan kacang hijau. Penanduan secara demikian itu dibolehkan jika kematian itu terjadi sesudah dilakukan upacara penutupan tungku masak gula lontar, yaitu upacara yang menandai berakhirnya masa kegiatan kerja yang dianggap penting dan kritis. Apabila kematian asin ini terjadi pada masa kegiatan memasak gula, maka penanduan korban ke kampung tidak boleh dilakukan sambil menyanyi seperti disebutkan tadi. Cara memasukkannya di kampung pun berbeda. Bukan lewat gerbang kampung akan tetapi melangkahi pagar karang. Ini disebut lila lau paga biri terbang pagar langkahi pagar. Pada hari ke-3 tiga diadakan lagi upacara “memaniskan” namun dipimpin Deo Rai. Juga buat dia diserahkan 7 tujuh ekor hewan rumah. Ia disambut dengan suguhan sirih pinang. Di rumah almarhum dipotong pula seejor babi untuk makan bersama warga atau disebut senga’a pana. Babi yang disembelih itu disebut wawi luna nyiu nata babi keramas manis. Dengan ini keadaan wajar dikembalikan lagi di antara mereka. Upacara yang kemudian menyusuli ialah seperti yang ada pada kematian biasa, yakni membersihkan, kemudian haga, diteruskan dengan “memaku rumah”. Dengan demikian lengkaplah mati asin itu menjadi mati manis. 85 84 Hasil wawancara dengan WD 66 tahun, pada hari rabu, 19 Oktober 2011, pukul wita, di kediaman bapak WD. 85 Nico L. Kana, Dunia Orang Sabu, Jakarta Timur Sinar Harapan, 1983 , hal. 68-73 58 Analisa Dalam ritual kematian suku Sabu untuk jenis mati asin made haro, penulis melihat adanya fungsi pastoral 1 Menyembuhkan Healing, yaitu suatu fungsi pastoral yang bertujuan untuk mengatasi beberapa kerusakan dengan cara mengembalikan orang itu pada suatu keutuhan dan menuntun dia ke arah yang lebih baik dari sebelumnya. Hal ini jelas terlihat dari keseluruhan proses mati asin made haro, yang adalah mati secara tidak wajar atau karena kecelakaan sehingga mereka melakukan ritual “memaniskan” kembali keadaan yang telah rusak agar orang telah meninggal tersebut dapat diterima untuk berkumpul dengan para leluhur di alam gaib. Selain itu juga dapat memberikan “kesembuhan” secara batin yang terluka akibat kematian anggota keluarga secara tidak wajar serta menormalkan segala hal yang telah “asin” ke keadaan semula. 2 Mendamaikan Reconciling, yaitu suatu fungsi pastoral yang bertujuan untuk berupaya membangun ulang relasi manusia dengan sesamanya dan antara manusia dengan Allah. Hal ini menurut penulis karena hubungan manusia dan sesama serta Tuhannya telah terluka akibat kematian yang tidak wajar sehingga dalam segala bentuk ritual mati asin made haro dilakukan proses memaniskan kembali ke keadaan semula sehingga hubungan atau relasinya dapat tejalin lagi. Gambar 6. Tetan Disini juga terlihat ba membutuhkan satu sama lain d dengan alam dan Tuhan. Sehin keadaan yang menimpa kita penjelasan di bab II dua terlih fisik, aspek mental, aspek spiri dapat melihat bahwa semua a manusia yang satu dengan ya manusia dapat menolong satu d Sama halnya dengan ad melayat untuk tidak makan di menurut penulis mereka mem mendapatkan kesialan yang sa lain begitu jelas terlihat. Akan t 86 Gambar diambil dari dari buku Nico, 59 tangga dan Kerabat berdatangan ketika terjadi kema bahwa manusia adalah makhluk sosial yang n dan memiliki relasi tidak hanya dengan sesama hingga hubungan baik itu harus terus terjaga sehi ta ada banyak tangan yang datang menolong. rlihat bahwa manusia memiliki empat aspek utama iritual dan aspek sosial yang ada dalam dirinya. D a aspek harus diperhatikan secara baik sehingga yang lain saling melengkapi. Dengan menyada u dengan yang lain. adat mereka yang tidak memperbolehkan orang di tempat atau rumah duka selain karena takut mementingkan atau mempedulikan satu sama lai sama. Disini terlihat bahwa sikap memperdulika n tetapi bukan berarti dengan tidak membiarkan or o, L. Kana, Dunia Orang Sabu, Jakarta Timur Sinar Harap ematian 86 g hidup saling ma, tetapi juga ehingga apapun . Seperti pada ma, yaitu aspek a. Dari sini kita gga keberadaan adari ini maka ng yang datang ut sial, adat ini lain agar tidak likan satu sama orang lain ikut rapan, 1983, 60 sial, mereka membiarkan orang yang meninggal tidak diurus karena takut sial tetapi mereka tetap melakukan setiap prosesnya agar kematian yang tidak wajar tersebut dapat dimaniskan kembali agar dapat diterima dengan baik oleh para leluhur dan mempermudah jalan menuju alam gaib. 3. 2. 2. Pemau Do made, meretas jalan menuju nirwana
Diniauliaro Diniauliaro January 2019 1 777 Report Perhatikan Data berikut ini. ritual kematian air memanggil hujan gendering pedang 5. Sebagai alah upacara Dari pernyataan di atas,yang bukan fungsi nekara ditunjukkan nomor..... a.1. d.4 b.2. e.5 c.3 alifah2705 D. 4Semoga membantu.. 26 votes Thanks 47 More Questions From This User See All Diniauliaro December 2018 0 Replies fungsi sarung tangan saat bekerja di laboratorium bila ada bahan kimia mengenai balian tubuh anda? Apa yang anda lakukan? Answer Diniauliaro December 2018 0 Replies 1. 2a-b+3b 2. 2a-3b-ac Answer diniauliaro October 2018 0 Replies Tulislah ilustrasi iklan baris di samping ini! perantara tnh Weleri Semarang 500m2 .Harga 100 jt nego hub budi 08138912345. MOHON JAWAB CEPAT Answer diniauliaro October 2018 0 Replies Jelaskan yang dimaksud dengan defacto dan dejure beserta contohnya Answer diniauliaro October 2018 0 Replies Jelaskan maksud hubungan bilateral dan multilateral Answer diniauliaro October 2018 0 Replies Mengapa peraturan perundang-undang harus dipatuhi dan dijalankan Answer diniauliaro September 2018 0 Replies 10 contoh kalimat dengantanda hubung perlawanan Answer Recommend Questions AlmaSabrina22720061 May 2021 0 Replies pada zaman dahulu pertunjukan tari colek banyak dilakukan di... Kampung liburan cerita dalam lenong betawi umumnya mengandung pesan.... mrifyal23 May 2021 0 Replies Dewan konstituante yang dibentuk berdasarkan hasil pemilu yang pertama tahun 1955 mempunyai tugas mimimi890 May 2021 0 Replies jelaskan selat yg menghubungkan sumatera dan jawa jihanhanifa59 May 2021 0 Replies politik etis sering mendapat ejekan sebagai politik sarung tangan sutra. mengapa demikian?jelaskan! Muhammadmansyur May 2021 0 Replies daerah yang berada di bawah kekuasaan kerajaan majapahit meliputi sumatra jawa Kalimantan Sulawesi nusa tenggara maluku dan papua . pernyataan tersebut di paparkan oleh nadia175356 May 2021 0 Replies penjelasan bagaimana aqidah tanpa filsafat dan filsafat tanpa aqidah said1622 May 2021 0 Replies jelaskan bagaimana sikap masyarakat indonesia terhadap agama dan bagaimana langkah langkah membumikan islam di kampus FikriArdjun3009 May 2021 0 Replies Bentuk bentuk perubahan sosial dan budaya dalam konsep perubahan dan keberlanjutan dalam sejarah fraansiskaa3667 May 2021 0 Replies Nerikut ini yang bukan dampak negative dari penerapan revolusi hijau di indonesia adalah RazanMI May 2021 0 Replies kenampakan bayangan yang lebih kecil dari ukuran benda sebenarnya Nekara merupakan salah satu benda peninggalan masa Praaksara yang sangat dominan di Asia Tenggara. Nekara sendiri juga ditemukan di Flores, Alor, dan Rote. Masyarakat Alor menyebut nekara sebagai moko. Sejak ratusan tahun silam, moko dipakai sebagai alat musik dan mas kawin. Memiliki moko juga meningkatkan status sosial dan dianggap menghargai tradisi warisan leluhur. Untuk masyarakat Alor, Flores, dan Rote nekara juga berfungsi sebagai sarana upacara. Biasanya nekara akan dipukul dan disertai sesaji. Dhafi Quiz Find Answers To Your Multiple Choice Questions MCQ Easily at with Accurate Answer. >> Ini adalah Daftar Pilihan Jawaban yang Tersedia Jawaban terbaik adalah B. -2. Dilansir dari guru Pembuat kuis di seluruh dunia. Jawaban yang benar untuk Pertanyaan ❝Cermati data berikut ini1 Mengiringi ritual kematian2 Mendinginkan air3 Upacara memanggil hujan4 Sebagai gendering perang5 Sebagai alat upacaraDari pernyataan-pernyataan di atas, yang bukan fungsi nekara ditunjukkan nomor… ❞ Adalah B. Menyarankan Anda untuk membaca pertanyaan dan jawaban berikutnya, Yaitu Bangunan-bangunan megalitik pada dasarnya menggunakan bahan dasar… . dengan jawaban yang sangat akurat. Klik Untuk Melihat Jawaban Apa itu Kuis Dhafi Merupakan situs pendidikan pembelajaran online untuk memberikan bantuan dan wawasan kepada siswa yang sedang dalam tahap pembelajaran. mereka akan dapat dengan mudah menemukan jawaban atas pertanyaan di sekolah. Kami berusaha untuk menerbitkan kuis Ensiklopedia yang bermanfaat bagi siswa. Semua fasilitas di sini 100% Gratis untuk kamu. Semoga Situs Kami Bisa Bermanfaat Bagi kamu. Terima kasih telah berkunjung.
perhatikan data berikut ini 1 mengiringi ritual kematian